SOLO - Keteguhan niat dan kesabaran luar biasa ditunjukkan oleh pasangan suami istri asal Dukuh Plosokerep, Desa Winong, Kecamatan Boyolali. Hadi Wiyono (63) dan Sutiyah (55) yang sehari-hari menggantungkan hidup dari berjualan jamu tradisional, akhirnya sujud syukur setelah penantian selama 14 tahun berbuah manis.
Pasangan ini dijadwalkan terbang ke Tanah Suci pada musim haji 2026 setelah menyisihkan rupiah demi rupiah selama tiga dekade terakhir. Perjalanan spiritual pasangan ini dimulai pada tahun 2012, tepat setelah mereka merampungkan kewajiban menikahkan anak pertama.
Dengan modal sisa tabungan sebesar Rp 50 juta, mereka memantapkan diri mendaftar haji meskipun menyadari bahwa masa tunggu tidaklah sebentar. Saat ditemui di kediamannya, Sutiyah tidak mampu membendung rasa haru karena impian yang semula dianggap mustahil bagi penjual jamu kini berada di depan mata.
Baca Juga: Wamendagri Bima Arya Tegaskan WFH Bukan Opsi tapi Wajib
"Syukur, alhamdulillah. Saya bersyukur bisa menunaikan ibadah haji. Saya bersyukur banget, bisa kayak gini, nggak ngira. Terharu Mas, terharu, bahagia," ungkap Sutiyah sembari didampingi sang suami pada Rabu (15/4/2026).
Kegelisahan sempat menyelimuti Hadi dan Sutiyah saat memikirkan pelunasan biaya haji di tengah ketidakpastian ekonomi. Namun Hadi memiliki strategi khusus untuk mempertebal tabungannya, yakni dengan cara beternak sapi.
"Saya beli sapi kecil, setelah besar saya jual. Nanti keuntungannya kami tabung. Terus beli lagi yang kecil, sudah besar dijual, ditabung lagi, begitu terus," kenang Hadi mengenai perjuangannya mengumpulkan biaya tambahan.
Usaha jamu racikan sendiri di Pasar Sunggingan telah ditekuni Hadi dan Sutiyah sejak 30 tahun lalu, bahkan sebelum anak pertama mereka lahir. Keterampilan meracik jamu yang diwarisi dari sang ibu menjadi sumber penghidupan utama keluarga ini.
Meskipun pendapatan harian dari pasar tidak menentu, mereka tetap disiplin menyisihkan uang sisa kebutuhan rumah tangga dan pendidikan anak ke dalam tabungan haji.
Hadi mengaku perjalanan hidupnya penuh liku, mengingat ia tidak lahir dari keluarga yang berlimpah materi. “Saya jualan jamu sejak berumah tangga, sebelum memiliki anak pertama, Malika ini. Menabungnya sedikit demi sedikit (untuk haji). Pendapatan harian kan tidak pasti, karena kadang habis, kadang masih," ucap Hadi sembari berkaca-kaca.
"Saya bersyukur alhamdulillah, akan dapat menunaikan ibadah haji. Nggak ngira, karena sejak kecil kehidupan bukan orang yang kecukupan," tambahnya dengan nada penuh syukur.
Berdasarkan jadwal, mereka akan mulai diberangkatkan menuju Embarkasi Solo pada 10 Mei 2026 mendatang. Di tengah persiapan administratif dan fisik, keduanya masih tetap aktif berjualan jamu di pasar guna menambah bekal uang saku selama di Arab Saudi.
Selain itu, mereka juga rutin melakukan olahraga mandiri untuk menjaga stamina agar dapat menjalankan seluruh rukun haji dengan sempurna. (fid/laz)
Editor : Heru Pratomo