Nasional Purworejo 24 Jam Kebumen Magelang Khazanah Budaya Wisata Jawa Tengah Jogjakarta Lifestyle Sosok Ekonomi Bisnis Parlementaria Pendidikan Sport

Pola Kota Tradisional Jawa

Administrator • Kamis, 4 Februari 2021 | 01:11 WIB
Photo
Photo
Radar Purworejo Kabupaten Kutoarjo pernah ada. Bahkan, Kabupaten Kutoarjo pernah menjadi pusat pemerintahan.

Salah satu bukti sejarah keberadaan Kabupaten Kutoarjo adalah bangunan Pendapa Bupati Kutoarjo. Bangunan tersebut didirikan pada masa Bupati R.A. Soerokoesomo. Pendapa tersebut selesai dibangun pada masa Bupati R.A.A. Pringgoatmodjo.

Pada masa kolonial Hindia Belanda, pemerintahan sipil dijalankan oleh Binnelandsch Bestuur (administrasi dalam negeri). Lembaga ini membagi dua susunan pegawai.

Pertama adalah Europesche Bestuur, administrasi Eropa. Pegawainya merupakan orang-orang Belanda.

Kedua kedua adalah Inlandsch Bestuur, administrasi asli. Pegawainya diangkat dari elite pribumi setempat dengan bupati sebagai kepalanya.

Jabatan bupati pada masa kolonial ditentukan berdasarkan garis keturunan. Ini berbeda dengan penentuan bupati masa sekarang yang ditentukan melalui mekanisme pemilihan umum.

Dengan demikian, bupati pada masa kolonial adalah bentuk kelanjutan tradisi feodalisme Jawa. Pemerintah kolonial rupanya telah belajar dari pengalaman bahwa pemaksaan ide asing terhadap suatu negeri sering kali menimbulkan pertentangan dari penduduk pribumi.

Maka, kepercayaan, adat istiadat, dan tradisi kaum pribumi dihormati dan dibiarkan berkembang menurut kemampuan mereka. Termasuk dalam hal arsitektur.

Arsitektur Pendapa Bupati Kutoarjo sangat khas. Arsitekturnya berbeda dengan rumah pejabat Jawa zaman itu yakni joglo.

Bangunan yang sekarang dipakai sebagai Rumah Dinas Wakil Bupati Purworejo ini menggunakan atap tajug. Lazimnya, atap tajug dipakai pada bangunan masjid.

Gaya arsitektur bangunan ini memadukan gaya arsitektur tradisional Jawa. Ini seperti terlihat pada Alun-Alun Kutoarjo.

Di sebelah selatan pendapa, terdapat lapangan luas yang disebut alun-alun. Alun-alun itu dibangun sesudah perpindahan kedudukan pemerintah Kabupaten Kutoarjo dari Semawung Daleman ke Desa Senepo. Perpindahan tersebut dilakukan pada masa bupati kedua Kutoarjo yakni R.M. Soerokosoemo.

Seperti halnya Bupati Tjokronegoro I, di lokasi baru R.M. Soerokoesoemo juga membangun Kutoarjo dalam pola kota tradisional Jawa. Sebagai pusat kota adalah alun-alun yang terletak di samping utara jalan nasional Purworejo-Kebumen.

Berbgai perhelatan atau perayaan digelar di alun-alun. Pohon beringin ditanam di tengah alun-alun. Ini sebagai salah satu perwujudan dari nilai persatuan pemimpin dengan rakyatnya. (tom/amd/er) Editor : Administrator
#Pendapa Bupati Kutoarjo