RADAR PURWOREJO - Bagi sebagian besar orang, uban sering dikaitkan dengan tanda-tanda penuaan, stres, atau perubahan hidup.
Namun, ternyata kebiasaan mencabut uban bukanlah solusi yang tepat.
Bukannya menghilangkan uban, kebiasaan mencabut uban ini malah bisa membawa masalah serius pada kesehatan rambut dan kulit kepala.
Lalu, mengapa kebiasaan mencabut uban harus dihindari?
Sebelum lebih jauh, salah satu anggapan yang sering muncul dalam kebiasaan mencabut uban adalah uban akan tumbuh lebih banyak lagi.
Namun, ternyata anggapan tersebut hanyalah mitos tanpa dasar landasan ilmiah yang benar.
Uban tidak akan menular ke rambut lain. Tetapi, rambut akan berubah menjadi putih jikalau sel pigmen di folikel benar-benar mati.
Keadaan ini tak lain karena setiap sel rambut hidup pada folikelnya masing-masing.
Maka, apabila folikelnya telah mati rambut tersebut akan berubah menjadi putih.
Secara singkat, apa yang terjadi pada satu folikel tidak akan berpengaruh pada folikel lainnya.
Banyak orang percaya, dengan mencabut uban rambut akan kembali hitam normal.
Padahal itu hanya kebiasaan sia-sia.
Uban yang dicabut tetap akan tumbuh uban, begitu seterusnya.
Di sisi lain, mencabut uban dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan.
Tempat di mana uban di cabut, di situ folikel akan mengalami trauma.
Sehingga resiko terburuknya, folikel tidak akan bisa lagi menumbuhkan rambut dan akhirnya kepala akan mengalami kebotakan.
Tidak hanya berhenti di situ saja, kebiasaan mencabut uban ternyata juga bisa menyebabkan infeksi serius.
Terutama jika kebiasaan tersebut dilakukan tanpa memperhatikan faktor kebersihan.
Untuk itu, solusi yang dapat dilakukan ketika mendapati uban adalah dengan memotongnya.
Memotong uban harus dilakukan dengan hati-hati, jangan dicabut.
Memotong lebih direkomendasikan karena tidak akan mempengaruhi folikel pada rambut.
Selain itu, cara menyamarkan uban dapat dilakukan dengan pewarna rambut atau menerima perubahan tersebut.
Sehingga dengan solusi-solusi tersebut, diharapkan rambut akan tetap aman dari resiko kebotakan dan infeksi bakteri. (Ahmad Yinfa Cendikia)
Editor : Meitika Candra Lantiva